[My Escape] – Laporan Kegiatan Bridging Programme 2017

Greetings from Asia University (3) – To outfitted my “DIKTI Bridging Programme 2017” experience in Taiwan, I attach my report here as my obligation and a reference for you who will intend to apply for this program in the future. This report written in Bahasa Indonesia. Cheers.

Laporan Kegiatan – Eko Fajar Cahyadi


[My Escape] – PPKBI (Program Peningkatan Kemampuan Bahasa Inggris) 2016 – The Journey to the Perfect 9

Ya, postingan ini amat sangat terlambat dalam rilisnya. Artikel ini sudah sangat lama tersimpan sebagai “Draft”, hampir 2 tahun sudah setelah awal kali pelaksanaannya, hingga baru pada bulan Agustus 2018 ini dapat terbit. Sesuai judul, program yang saya ikuti ini bernama PKBI (Peningkatan Kemampuan Bahasa Inggris), dilaksanakan pada bulan September – Desember 2016. Program ini diselenggarakan dalam rangka meningkatkan kualifikasi sumber daya manusia khususnya peningkatan kemampuan berbahasa asing bagi dosen tetap di lingkungan Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) yang berminat studi lanjut ke luar negeri. Ditjen Sumber Daya Iptek dan Dikti setiap tahunnya menyelenggarakan program PKBI (Peningkatan Kemampuan Bahasa Inggris) yang merupakan kelanjutan dari program Talent Scouting.

Setiap UPT bahasa yang menjadi tuan rumah untuk program PKBI DIKTI ini memiliki caranya sendiri-sendiri dalam mengelola program ini. Di UPT Pusat Bahasa ITB misalnya, tempat yang digunakan unutk program PKBI 2016, setiap hari (Senin – Kamis) kami selalu diberikan materi reading, writing, speaking, dan listening, dan di hari Jumat, kami mendapatkan latihan tes IELTS, untuk memantau perkembangan score IELTS kami.

Program yang dilaksanakan secara intens namun dalam suasana santai ini memberikan manfaat nyata dalam perkembangan kemampuan berbahasa Inggris (sebagian besar dari) kami. Sebagai gambaran, saya yang ketika sebelum mengikuti program ini memiliki nilai IELTS di sekitar angka 4, di akhir program saya mendapatkan sertifikat IELTS dengan nilai overall 6,5.

Adapun syarat-syarat untuk mengikuti program PKBI yang pada tahun 2018 ini menurut saya pribadi “cukup mudah” jika dirujukkan untuk seorang dosen “muda” (lihat syarat no. 2). Persyaratannya antara lain:
1. Berbadan sehat dan bebas narkotika psikotropika dan zat aditif lainnya (napza), dibuktikan dengan surat keterangan dokter;
2. Usia maksimal 45 tahun;
3. Jenjang pendidikan minimal S2 yang dibuktikan dengan salinan ijazah dan transkrip nilai;
4. Memiliki NIDN yang terdaftar dan aktif di http://forlap.ristekdikti.go.id ;
5. Menguasai Bahasa Inggris dasar yang dibuktikan dengan melampirkan salinan sertifikat bukti kemampuan berbahasa Inggris (TOEFL institusional (ITP) minimal 500, atau iBT minimal 65, atau IELTS minimal 5,5);
6. Mendapatkan izin dari pimpinan perguruan tinggi yang bersangkutan untuk mengikuti pelatihan bahasa Inggris selama 3 (tiga) bulan secara penuh waktu (full time);
7. Tidak berstatus sedang studi (izin belajar atau tugas belajar);
8. Belum pernah mengikuti program Peningkatan Kemampuan Bahasa Inggris sebelumnya yang diselenggarakan oleh Ditjen Sumber Daya Iptek dan Dikti.

 


The Ground Zero


[My Escape] – Greetings from Asia University (2)

In the previous article in my post about “Greetings from Asia University (1)“, I have told you what is the DIKTI Bridging Programme 2017 all about. As I mentioned earlier, Asia University is one of private university in Taiwan, located in Taichung City. Founded in 2001, it offers an education for degrees in health and medical science, computer science and electrical engineering, creative design, management, and humanities and social sciences.

In less than 15 years, Asia University has been recognized as an outstanding university in school running; for three consecutive years, the university was selected by peer university presidents to be in the top 10 best school-running universities in Taiwan (2016 ~ 2018). Furthermore, the university was evaluated by the THE (Times Higher Education) to be in the top 100 in seven distinct world rankings in recent years, in addition to several other good world rankings by other institutions.


Our first day in Asia university

Our early days in Asia University full with an introduction event with some professor and academic staff, coupled with international forum that held by Asia University. A “2017 Asia University Higher Education Forum for Rectors and Presidents” forum presents a main topics about industrial revolution 4.0. In this event, I can experience how the campus manage such a big gathering among the universities presidents. The enthusiasm and energy was there. I remember on the afternoon break, I go back to my apartment to have my own lunch, and still have a plenty of energy to be back again in campus. This same thing goes on for two days. Every detail of moments from that event still in my head, till today, a year later. Thanks for the experience you offer to us, appreciate it.


[My Escape] – Membuat Resident Visa untuk Studi Lanjut di Taiwan

Mengurus visa merupakan tahapan berikutnya yang harus dilakukan setelah persyaratan sebelumnya, seperti medical check-up, selesai. Gambar di atas merupakan visa yang saya buat untuk keperluan studi lanjut S3 saya di Taiwan. Dapat dilihat di atas, masa berlaku visa tersebut dari waktu dikeluarkannya (Issue Date) hingga masa penggunaannya untuk masuk ke Taiwan (Enter Before) maksimal adalah 3 bulan, dengan kata lain visa tersebut harus digunakan sebelum 3 bulan. Untuk international student kodenya FS (lihat Remarks).

Lama waktu pembuatannya sendiri kurang lebih 2 hari, saya memasukkan berkas pada hari Selasa pagi (kantor Taipei Economic and Trade Office (TETO) buka pukul 08.30 WIB) dan sudah dapat diambil pada hari Kamis (waktu pengambilan visa dilayani mulai pukul 13.30 WIB). Kantor TETO Jakarta (karena ada juga kantor TETO di Surabaya) sendiri beralamat di:
L12 & L17 Gedung Artha Graha, Jalan Jendral Sudirman No. Kav 54-55, Senayan, Kebayoran Baru, RT.5/RW.3, Senayan, Jakarta Selatan, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12190.
Untuk pengurusan visa sendiri ada di lantai 12, yang nantinya ketika anda masuk gedung tersebut, anda diminta untuk meninggalkan ID card anda dan ditukar dengan kartu akses masuk, serta ditunjukkan oleh petugas security untuk naik menggunakan lift nomor berapa ke lantai 12 tersebut.

Adapun dokumen-dokumen yang perlu anda persiapkan sebelum datang ke kantor TETO di Jakarta untuk mengajukan pembuatan visa antara lain:

1. Mengisi aplikasi permohonan visa secara online melalui website https://visawebapp.boca.gov.tw, kemudian aplikasi permohonan tersebut di-print dan ditandatangani langsung oleh yang bersangkutan.
2. Melampirkan 2 lembar pasfoto 6 bulan terakhir, ukuran 4 cm x 6 cm (berwarna dan latar belakang putih).
3. Paspor berlaku minimal 6 bulan ke atas (Asli + Fotokopi).
4. Surat penerimaan sekolah (LoA) / Admission letter (Asli + Fotokopi). Nb: LoA asli akan ditahan di TETO selama proses pembuatan visa selama +/- 2 hari tersebut.
5. Ijazah + Transkrip nilai terakhir (Bahasa Inggris) (Asli + Fotokopi). Nb: Ijazah + Transkrip nilai asli akan ditahan di TETO selama proses pembuatan visa selama +/- 2 hari tersebut.
6. Jika belum ada Ijazah, lampirkan surat keterangan Lulus (Tidak perlu legalisir, kecuali pihak sekolah yang meminta).
7. Medical Check-up di rumah sakit / klinik yang ditentukan (Asli + Fotokopi)
a. Masa berlaku Medical 3 bulan
b. Jika hasil medical check-up measles dan rubella negatif, maka harus melampirkan bukti vaksinasi.
8. Fotokopi kartu keluarga.
9. Fotokopi rekening tabungan minimal Rp 50.000.000,- dalam 3 bulan terakhir / surat bukti beasiswa. Nb: Dalam case saya, saya hanya menggunakan surat bukti penerimaan beasiswa dari kampus tujuan.
10. Biaya Resident visa Rp. 858.000,- , Biaya Visitor visa Rp 650.000,- . Nb: Pembayaran hanya dapat dilakukan secara tunai/cash.

Nb: Perihal medical check-up

1. Daftar rumah sakit / klinik dapat di download dari website TETO.
2. bagi yang belum menerima Ijazah kelulusan, tidak perlu melampirkan medical dan hanya mendapatkan Visitor visa.
3. TETO berhak untuk meminta penambahan dokumen / panggilan interview.


[Scholarship] – Taiwan Higher Education Fair 2018


[My Escape] – Greetings from Asia University (1)

Hello everyone, let me introduce you to my new home for the last five weeks back to November 2017. The new environment that drives my perspective to the next level about the Ph.D. Meet many brilliant and attractive people that have one vision in their minds; move forward. Such a privilege to have the marvelous discussion, explore the country, get a new family, and experienced the kindness of the Taiwanese.

This program held by DIKTI for Indonesian lecturers whose willing to get their Ph.D. abroad. The programs called “Bridging Programme 2017”. This time, we are lucky enough to experienced Taiwan, particularly Asia University, that located in Taichung City. The weather, people, and all the things that happen there, just perfect. A combination of old culture and modern technology that emphasize how civilized they are.

On the next article on my blog, I will give you several updates about our activities there. So, hope you enjoy the journey, cheers…


[My Escape] – Writing Band Descriptors IELTS Writing Task 1

Just in case you guys need it…
2nd occasion for me, Harper Hotel Mangkubumi Yogyakarta, August 26, 2017.
#RetakeIELTSTest #Writing #HopefullyCouldPass7


IELTS_task_1_Writing_band_descriptors


The Difference Between A Book and The Scientific Journal


[My Escape] – Ph.D School in Picture

[Repost]
Credits to: http://matt.might.net
Author: Matthew Might






Lovely isn’t it? It show us how to keep our foot stays on earth…

 


[My Escape] – Meet My Humble Supervisor

Hampir empat tahun sejak saya lulus dari program Pascasarjana ITB. Sepanjang waktu itulah saya tidak berjumpa dengan bapak ini, Ir. Hardi Nusantara M.T. Pembimbing thesis saya kala itu. Salah satu dosen di program Teknik Telekomunikasi ITB yang mempunyai spesialisasi di bidang Komunikasi Serat Optik.

Kesan selama diajar oleh beliau selalu positif. Menjelaskan tentang pengertian Komunikasi Serat Optik hingga diberi tugas besar perancangan jaringan Fiber Optik di daerah Bandung (tugas yang satu ini hampir setara seperti karya BAB 3 dan BAB 4 TA/Skripsi mahasiswa-mahasiswa saya) dengan cara yang menyenangkan. Pertama, mungkin karena kami adalah mahasiswa program Pascasarjana, dimana jumlah peserta kuliah tidak sampai 20 orang, dan selalu tenang ketika diberi penjelasan di dalam kelas. Kedua, memang faktor beliau dalam menyampaikan materi yang begitu smooth sehingga cukup mudah dimengerti.

Singkat cerita kala itu akhirnya saya memilih beliau sebagai supervisor thesis saya, karena topik yang saya angkat memang terkait Fiber Optik. Namun, beberapa “obstacle” yang akhirnya membuat saya harus mengganti topik thesis hingga tiga kali, jadilah saya menggunakan “Plan D”. Bukan spesialisasi beliau memang, tapi saya tetap mempercayai beliau untuk membimbing karya akhir saya itu, hingga ke tahap akhir, sidang Thesis.

15 Mei 2017, saya bertemu beliau kembali di Lab Telmat, Labtek VIII, Lantai 4 untuk meminta “Recommendation Letter” terkait pengajuan MEXT scholarships. Senang sekali rasanya, pertama karena saya dapat bertemu beliau kembali secara tidak sengaja, dalam waktu yang sangat tepat sekali, ya, bisa dibilang, “semesta mendukung” saya kala itu. Banyak hal dalam rangkaian peristiwa di hari itu yang sungguh-sungguh tidak akan lekang dalam ingatan saya untuk waktu yang cukup lama dalam suatu rangkaian waktu yang cukup singkat itu.

Untuk mengakhiri postingan saya kali ini, pak Hardi, dimanapun anda berada saat ini, semoga kesehatan dan kesuksesan menyertai anda selalu. Salam. Cheers.