[My Escape]- Pentas Ambal Warsa 48: Fragmen Sinta Obong

IMG_5864

Yogyakarta 15 Mei 2016

Pentas Seni Tari, Pentas Ambal Warsa 48 UKM Swagayugama, dengan tema: “Mengarungi Waktu Menjaga kemurnian”.

Sinopsis

Cinta Rama dan Sinta menjadi perlambangan persatuan sejati, cinta yang bisa melebur dosa-dosa manusia. Untuk itulah Sinta rela menderita demi kesetiaannya kepada Rama. Sinta telah berbuat segala-galanya karena ia percaya dari penderitaannya, suaminya akan mendapat kemuliaan. Ia pun dengan tegar akan terjun ke dalam api yang hendak menguji kesuciannya. Hal tersebut ia lakukan bukan untuk membuktikan kesuciannya karena ia tidak pernah merasa menodai kesucian itu, melainkan ia hanya ingin menunjukkan betapa bakti dan cintanya terhadap ksatria ayodya yang dimuliakannya (UKM Swagayugama).

Sari Sumekar

Sari mempunyai arti inti, sedangkan sumekar berasal dari kata sekar yang berarti bunga. Sehingga, Sari Sumekar adalah intisari dari sebuah bunga yang sedang berkembang. Tari ini bercerita tentang gadis-gadis yang tengah belajar menari Jawa. Sebagai tari dasar, Sari Sumekar merupakan tari pertama yang dipelajari setelah seorang penari pemula mempelajari gerakan dasar tari Jawa klasik. Gerakan yang lemah lembut pada tarian ini melatih greget, wirasa, dan dedeg yang kuat pada saat menari klasik gaya Yogyakarta (UKM Swagayugama).

Klana Raja

“Raja” dalam budaya masyarakat Jawa adalah manifestasi penguasa mayapada dan alam astral. Sebutan “Klana” ditujukan bagi tokoh besar pengelana yang dapat pula berkonotasi pada manusia yang senang berimajinasi terhadap hal-hal besar, cita-cita tinggi. Hal tersebut kadang-kadang berasosiasi pada romantisme suatu “kegandrungan” yang tidak mesti bersifat materialis, melainkan pada idealisme yang estetis. Ada suatu kegagahan dalam pengejawantahannya. Tari Klana Raja merupakan suatu penggambaran keagungan raja, dengan gaya tari gagah “kalang kinantang raja” yang berbeda dengan “kalang kinantang” biasa, frase gerak yang dihadirkan terkesan manis dan jantan. Demikian pula pose tangan kiri diperuntukkan pada “ngoyang kanan” maupun pada saat “tancep” yang memberikan ekspresi kesabaran. Di tingkat irama gendhing “lung gadung” pelog bem, maka tarian ini mengumandangkan keagungan (UKM Swagayugama).

It is worth to watch…